Categories
Uncategorized

Singgah ke Masjid Al-Huda Tembilahan

Masjid Raya Al-Huda, adalah salah satu masjid termegah yang berada  Kota Tembilahan Provinsi Riau. Masjid ini merupakan salah satu bangunan yang mana lokasinya sangat menarik perhatian karena berada di lepas tepian sungai Indragiri.

Singgah ke Masjid Al-Huda Tembilaha

Seperti kita ketahui secara bersama bahwa sebagian besar perjalanan sejarah kota kota yang ada di Indonesia terutama pada masa lalu ini telah menyandarkan sarana transportasi sungai dalam kehidupan yang mana secara kesehariannya sangat akur dan rukun, maka wajar bila kemudian fasilitas-fasilitas bangunan umum seperti masjid ini akhir-akhir ini begitu masif dibangun.

Lokasinya yang berada di tepian sungai Indragiri ini menghadirkan pemandangan tersendiri bagi kota Tembilahan, bila dipandang dari arah sungai atau dari seberang sungai. Tampak kota tembilahan dengan latar depan Masjid Agung Al-Huda dengan kubah besar dan empat menaranya yang menjulang.

Masjid Raya Al-Huda Tembilahan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1900-an yang mana kala itu masjid ini hanya bermodal kan dengan konstruksi bangunan yang semuanya terbuat dari bahan dari kayu,terlebih untuk bagian pada atap masjid ini yang menggunakan bahan dari kayu sirap (atap yang terbuat dari kayu ulin).

Kala itu masjid ini juga merupakan satu-satunya sebuah bangunan Masjid yang mana berada di kota Tembilahan, sehingga menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan kaum muslimin dan  juga muslimat untuk kota Tembilahan dan juga sekitarnya.

Masjid Agung Al-Huda  ini dibangun dengan biaya yang mana semuanya berasal dari sumbangan waqaf, infaq, dan juga shadaqah dari para kaum muslimin dan juga muslimat yang berada di Kota Tembilahan dan juga sekitarnya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan juga kebutuhan akan banguna masjid yang jauh lebih besar untuk menampung jamaah agar berdaya menampun jumlah jamaah yang semakin bertambah,maka kemudian masjid Al-Huda ini mengalami beberapa kali renovasi dan juga dilakukan tahap perluasan.

Perombakan pertama dlakukan di tahun 1935, lalu kemudian sempat juga dilakukan perombakan lagi di tahun 1968 dan terakhir pada tahun 1994. Bangunan megah yang kini berdiri merupakan hasil pembangunan di tahun 1994 tersebut.

Perombakan tahun 1994 juga menambahkan bangunan kantor Yayasan Al-Huda dan kantor Pengurus Masjid Al-Huda, kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indragiri Hilir dan ruang perpustakaan

MUI dan Masjid Al-Huda khusus nya di bagian lantai atas dari ruangan Masjid Al-Huda kerap seakli dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan berbasis Islam yakni Tahfizil Quran, Taman Pengajian Al-Quran dan kegiatan Remaja Masjid Al-Huda.

Bangunan masjid Agung Al-huda dibangun di atas tanah seluas 3600 m2. Berdasarkan beberapa sumber, bangunan masjid ini telah berdiri dari masa penjajahan Belanda.

Meskipun dahulunya tidak semegah dan sebesar sekarang ini. Saat itu, bangunan masjid ini telah memiliki menara, tetapi tidak setinggi seperti sekarang ini. Selanjutnya dilakukan renovasi, sehingga menara tunggalnya lebih tinggi lagi.

Bangunan masjid Agung Al-Huda dibangun menjadi tiga lantai, yang terdiri atas lantai basement yang mempunyai luas mencapai (1.175 m2), yang mana kedua lantai dasar tersebut masing-masing mempunyai luas hingga (1.372) serta lantai satu seluas (1.073 m2). Bangunan lantai basement ini kerap dijadikan area pendukung untuk tempat berwudhu maupun toilet yang tepatnya berada pada bagian lantai dasar ini. 

Sementara untuk ruang sholat utamanya berada pada lantai dasarnya. Yang mana untuk bagian terakhir ialah lantai satu yang digunakan secara khusus untuk ruang utama sholat untuk wanita maupun sebagai tambahan saat melaksanakan ibadah sholat jumat ataupun ibadah shalat Idul Fitri,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *